Musim kemarau kembali menyapa berbagai wilayah. Udara terasa lebih panas, debu-debu mulai beterbangan di sepanjang jalan, dan debit air tanah di pemukiman warga perlahan menyusut. Di beberapa daerah, dampaknya bahkan terasa lebih berat: sawah-sawah retak memohon air, sungai-sungai mengering, dan masyarakat harus mengantre berjam-jam demi mendapatkan setetes air bersih untuk kebutuhan harian.
Secara ilmiah, siklus perubahan cuaca adalah fenomena alamiah yang dipengaruhi oleh pergerakan angin dan suhu permukaan laut. Namun, dalam kacamata syariat Islam, kekeringan yang berkepanjangan bukan sekadar peristiwa alam biasa. Ia adalah pengingat, ujian, sekaligus teguran lembut dari Allah SWT agar manusia kembali menyadari kelemahan dirinya dan memperbanyak istigfar.
Di tengah kondisi darurat air ini, Rasulullah SAW telah mengajarkan satu ikhtiar spiritual yang sangat mulia, yaitu dengan menunaikan salat Istisqa musim kemarau. Sayangnya, sunah yang sangat dianjurkan ini kerap kali terlupakan atau dianggap sekadar seremonial belaka. Padahal, di balik gerakan dan doa dalam salat Istisqa, terdapat rahasia keimanan yang amat dalam.
Memahami Makna Salat Istisqa
Kata Istisqa () secara bahasa berakar dari kata as-suqya yang berarti meminta minum. Dalam konteks fikih, salat Istisqa musim kemarau diartikan sebagai ibadah salat sunah dua rakaat yang dikerjakan secara berjamaah untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan di saat terjadi kekeringan atau krisis air yang meluas.
Menghidupkan amalan ini bukan sekadar bentuk kepatuhan terhadap ajaran Nabi Muhammad SAW, melainkan manifestasi dari rasa butuh (al-ftiqar) seorang hamba kepada Sang Pencipta. Manusia boleh saja memiliki teknologi penyemaian awan atau waduk yang megah, tetapi pada akhirnya, Dialah yang memegang kendali penuh atas setiap tetes air yang turun dari langit.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Mulk ayat 30:
“Katakanlah (Muhammad), ‘Terangkanlah kepadaku jika sumber airmu menjadi kering, maka siapakah yang akan memberimu air yang mengalir?'”
Sunah-Sunah Sebelum Menjalankan Salat Istisqa
Pelaksanaan salat Istisqa memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan salat sunah lainnya. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa ikhtiar batin ini harus diawali dengan pembersihan jiwa. Sebelum melangkah ke tanah lapang untuk menunaikan salat Istisqa musim kemarau, umat Islam dianjurkan untuk melakukan beberapa hal berikut:
- Memperbanyak Istigfar dan Taubat
Kekeringan kerap dikaitkan dengan perbuatan dosa dan maksiat yang merajalela. Oleh karena itu, langkah pertama sebelum berproses memohon hujan adalah mengakui kesalahan, bertaubat nasuha, dan memperbanyak bacaan istigfar.
- Berpuasa Sunah Selama Beberapa Hari
Para ulama, termasuk dalam mazhab Syafi’i, menyarankan pemimpin atau ulama setempat untuk mengimbau masyarakat berpuasa selama tiga atau empat hari berturut-turut sebelum pelaksanaan salat Istisqa. Doa orang yang berpuasa termasuk doa yang sulit tertolak.
- Membayar Zakat dan Menyelesaikan Zalim
Menahan hak orang lain, seperti enggan membayar zakat atau menzalimi sesama, dapat menjadi penghalang tertahannya rahmat Allah. Sebelum melangkah ke tempat salat, selesaikanlah segala urusan hak sesama manusia.
- Tampil Sederhana dan Khusyuk
Berbeda dengan salat Idulfitri atau Iduladha yang disunahkan memakai pakaian terbaik dan wewangian, pada salat Istisqa jamaah dianjurkan memakai pakaian yang sederhana, tidak berlebihan, dan hadir dengan perasaan rendah hati serta pasrah.
Tata Cara Salat Istisqa
Salat Istisqa dikerjakan sebanyak dua rakaat, disunahkan di tanah lapang (al-mushalla), dan dilaksanakan secara berjamaah. Ringkasan tata caranya adalah sebagai berikut:
- Niat: Memasang niat di dalam hati untuk menunaikan salat sunah Istisqa dua rakaat karena Allah SWT.
- Rakaat Pertama: Diawali dengan takbiratul ihram, dilanjutkan dengan takbir tambahan sebanyak 7 kali (seperti salat ‘Iid). Di antara takbir dibaca tasbih. Setelah itu membaca Surah Al-Fatihah dan surah pendek, lalu rukuk dan sujud seperti biasa.
- Rakaat Kedua: Berdiri untuk rakaat kedua dengan takbir tambahan sebanyak 5 kali. Dilanjutkan membaca Al-Fatihah, surah pendek, hingga tahiyyat akhir dan salam.
- Khutbah Istisqa: Setelah salam, khatib akan berdiri menyampaikan khutbah. Ciri khas khutbah Istisqa adalah khatib mengawali khutbah pertama dengan memperbanyak bacaan istigfar (biasanya 9 kali) dan khutbah kedua (7 kali).
- Memutar Selendang/Jubah (Tahwil al-Rida’): Di pertengahan khutbah atau saat berdoa, khatib memutar posisi kain sorban atau jubahnya (posisi kanan ke kiri dan sebaliknya). Ini adalah simbol tafa’ul (pengharapan) agar Allah memutar kondisi kekeringan menjadi keberkahan dan kelimpahan air.
Hikmah Spiritual di Balik Kemarau dan Doa Memohon Hujan
Mengapa Allah menurunkan musim kemarau yang panjang? Salah satu hikmah terbesar adalah melatih kesadaran kolektif umat. Ketika pasokan air berlimpah, manusia sering kali kufur nikmat membuang-buang air, mencemari lingkungan, dan lupa bersyukur. Saat air sulit didapat, barulah manusia menyadari betapa berharganya setiap tetes cairan kehidupan tersebut.
Melalui salat Istisqa musim kemarau, kita diajarkan untuk menyatukan barisan. Orang kaya, orang miskin, pejabat, hingga rakyat biasa berkumpul di satu lapangan yang sama dengan posisi yang sejejer: sama-sama hamba yang fakir di hadapan Allah. Kebersamaan dalam kerendahan hati inilah yang mengundang turunnya rahmat Allah SWT.
Penutup dan Ajak Kebaikan
Musim kemarau adalah momen penting bagi kita untuk mengetuk pintu langit melalui salat Istisqa musim kemarau sekaligus mengetuk pintu bumi melalui kepedulian sosial. Selain memanjatkan doa, mari hadirkan bukti nyata kepedulian kita kepada saudara-saudara yang kini sedang berjuang melawan kekeringan dan krisis air bersih. Salurkan infak dan sedekah terbaik Anda sekarang melalui lembaga donasi terpercaya untuk menghadirkan sumur bor dan distribusi air bersih bagi wilayah terdampak, agar duka kekeringan berganti menjadi senyum keberkahan.