
Waktu antara salat Asar hingga berkumandangnya azan Magrib, atau yang akrab kita sebut dengan “ngabuburit”, seharusnya menjadi momen yang penuh ketenangan dan refleksi. Namun, di era digital ini, makna ngabuburit telah mengalami pergeseran drastis. Alih-alih digunakan untuk memperbanyak zikir atau sekadar bercengkrama dengan keluarga, banyak dari kita justru terjebak dalam bahaya doomscrolling saat ngabuburit.
Tanpa sadar, jempol kita terus bergerak menyapu layar ponsel, berpindah dari satu konten berita buruk ke video pendek lainnya, hingga tiba-tiba langit sudah gelap. Apa yang sebenarnya terjadi pada otak kita, dan mengapa kebiasaan ini justru merampas keberkahan Ramadan kita?
Apa Itu Doomscrolling?
Doomscrolling adalah istilah yang menggambarkan kebiasaan seseorang untuk terus-menerus mengonsumsi berita negatif atau konten media sosial yang tidak berujung, meskipun konten tersebut memicu rasa cemas, sedih, atau marah. Fenomena ini diperparah oleh algoritma media sosial yang dirancang untuk menjaga pengguna tetap berada di dalam aplikasi selama mungkin.
Saat perut sedang kosong dan energi menurun di sore hari, daya kritis kita melemah. Di sinilah “jebakan” itu bekerja. Kita mencari hiburan cepat (instan dopamin) untuk mengalihkan rasa lapar, namun yang kita dapatkan justru kelelahan mental.
Mengapa Kita Terjebak Saat Ngabuburit?
Ada beberapa alasan psikologis mengapa waktu menjelang berbuka menjadi waktu yang sangat rentan untuk melakukan doomscrolling:
- Penurunan Glukosa: Saat berpuasa, kadar gula darah menurun, yang memengaruhi kemampuan prefrontal cortex bagian otak yang bertanggung jawab atas kontrol diri dan pengambilan keputusan. Akibatnya, kita lebih sulit untuk berkata “cukup” pada layar ponsel.
- Membunuh Waktu: Banyak orang menganggap media sosial adalah cara tercepat untuk membuat waktu terasa berjalan lebih singkat. Padahal, ini adalah “pencurian waktu” secara halus.
- FOMO (Fear of Missing Out): Kita merasa perlu tahu apa yang sedang terjadi di dunia luar, atau sekadar ingin melihat apa yang orang lain makan untuk berbuka, yang sering kali berujung pada rasa iri atau insecurity.
Dampak Buruk Doomscrolling bagi Puasa Anda
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan juga menahan pandangan dan hati. Bahaya doomscrolling saat ngabuburit tidak hanya berdampak pada fisik, tapi juga spiritual:
1. Kelelahan Mental (Mental Fatigue)
Alih-alih merasa segar saat berbuka, otak yang dipaksa memproses ribuan informasi dalam waktu singkat akan merasa sangat lelah. Ini sering disebut dengan brain fog, di mana kita merasa linglung dan sulit fokus saat hendak menjalankan ibadah salat Magrib atau Tarawih.
2. Mengurangi Kualitas Ibadah
Ramadan adalah bulan di mana setiap detik sangat berharga. Menghabiskan dua jam sebelum berbuka hanya untuk melihat drama di internet atau berita konflik global tanpa tujuan yang jelas adalah kerugian besar. Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk tadarus atau berdoa justru menguap begitu saja.
3. Meningkatkan Hormon Kortisol
Konten negatif memicu pelepasan kortisol (hormon stres). Berbuka puasa dalam keadaan stres tentu tidak ideal bagi kesehatan pencernaan dan ketenangan batin.
Cara Memutus Rantai Doomscrolling
Jika Anda merasa sudah terjebak, jangan khawatir. Berikut adalah beberapa langkah praktis untuk mengembalikan esensi ngabuburit Anda:
Terapkan “Digital Detox” Menjelang Magrib
Cobalah untuk meletakkan ponsel di ruangan lain atau mengaktifkan mode Do Not Disturb satu jam sebelum berbuka. Gunakan waktu ini untuk aktivitas fisik ringan atau membantu menyiapkan hidangan di dapur.
Cari Alternatif Ngabuburit yang Bermakna
- Membaca Buku Fisik: Membaca buku memberikan stimulasi otak yang berbeda dengan layar digital dan tidak memicu kecemasan yang sama.
- Mendengarkan Kajian/Podcast Positif: Jika Anda tetap ingin menggunakan gawai, pilihlah konten audio yang menambah ilmu, sehingga mata Anda bisa beristirahat.
- Refleksi Diri (Journaling): Gunakan waktu tenang untuk menuliskan rasa syukur atau evaluasi puasa Anda hari itu.
Batasi Penggunaan Aplikasi
Gunakan fitur screen time pada ponsel Anda untuk membatasi akses ke media sosial selama bulan Ramadan, terutama pada jam-jam kritis seperti sore hari.
Mengembalikan Keberkahan di Penghujung Hari
Momen menjelang berbuka adalah salah satu waktu yang paling mustajab untuk berdoa. Rasulullah SAW bersabda bahwa doa orang yang berpuasa saat ia berbuka tidak akan tertolak. Bayangkan betapa ruginya kita jika waktu yang sangat mulia tersebut justru terbuang hanya untuk melihat unggahan yang tidak bermanfaat.
Ubah pola pikir Anda: Ngabuburit bukan tentang bagaimana cara agar waktu cepat berlalu, tapi tentang bagaimana kita mengisi waktu yang tersisa dengan kualitas terbaik sebelum kita menerima hadiah berupa hidangan berbuka.
Kesimpulan
Bahaya doomscrolling saat ngabuburit adalah tantangan nyata di era modern. Dengan memahami bahwa perilaku ini merupakan bentuk pelarian yang merugikan, kita bisa lebih bijak dalam mengelola waktu. Mari jadikan Ramadan kali ini sebagai momentum untuk “puasa gadget” dan kembali terhubung dengan diri sendiri, keluarga, serta Sang Pencipta.
Mari Berbagi Kebaikan di Bulan Suci
Setelah menyadari pentingnya menjaga waktu dan kesehatan mental kita, mari sempurnakan ibadah dengan berbagi kepada sesama. Sebagian dari rezeki kita adalah hak mereka yang membutuhkan. Melalui donasi Anda, kita dapat menghadirkan paket berbuka puasa yang layak bagi saudara-saudara kita di pelosok yang masih kesulitan. Klik tombol donasi sekarang dan jadikan setiap detik ngabuburit Anda lebih bermakna dengan aksi nyata.