Misteri Belenggu Setan: Mengapa Maksiat Tetap Ada di Bulan Ramadhan?

Ramadhan sering kali disebut sebagai bulan suci di mana pintu surga dibuka lebar, pintu neraka ditutup rapat, dan setan-setan dibelenggu. Narasi ini berlandaskan hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim yang sangat populer di telinga umat Islam. Secara logika sederhana, jika “sang penggoda” utama sudah dipenjara, seharusnya dunia menjadi tempat yang sangat steril dari dosa selama tiga puluh hari.

Namun, realitanya sering kali berbicara lain. Kita masih melihat adanya pertikaian, mendengar berita kriminal, menyaksikan perilaku konsumtif yang berlebihan, atau bahkan merasakan dorongan dalam diri sendiri untuk melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Hal ini memicu pertanyaan besar: Mengapa maksiat di bulan Ramadhan tetap terjadi? Apakah belenggu setan itu tidak kuat, ataukah ada faktor lain yang selama ini kita abaikan?

Memahami Makna “Setan Dibelenggu”

Para ulama memiliki beberapa penafsiran mengenai hadis pembelengguan setan ini. Memahami perspektif ini sangat penting agar kita tidak salah kaprah dalam memandang fenomena sosial dan spiritual selama Ramadhan.

  1. Makna Hakiki (Lidzatini): Sebagian ulama berpendapat bahwa setan benar-benar dibelenggu secara fisik sehingga mereka tidak leluasa menggoda manusia sebagaimana di bulan-bulan lainnya. Namun, ini tidak berarti pengaruh mereka hilang 100%. Ibarat anjing galak yang dirantai, ia tetap bisa menggonggong dan menakuti orang yang mendekat ke arahnya.
  2. Makna Majazi (Kiasan): Ada pula yang berpendapat bahwa ini adalah kiasan. Karena orang berpuasa dengan benar, syahwat mereka melemah. Setan masuk ke tubuh manusia melalui peredaran darah, dan puasa mempersempit ruang gerak tersebut. Jadi, yang “membelenggu” setan sebenarnya adalah kualitas ibadah puasa kita sendiri.
  3. Hanya Setan Marid (Pembangkang): Dalam riwayat lain disebutkan bahwa yang dibelenggu adalah Maradatun Syayathin (setan-setan yang paling jahat/pembangkang). Artinya, setan-setan “kroco” atau kelas teri mungkin masih berkeliaran.

Musuh Dalam Selimut: Nafsu Ammarah

Jika setan adalah musuh eksternal, maka kita memiliki musuh internal yang sering kali lebih berbahaya: Hawa Nafsu. Selama sebelas bulan, nafsu kita telah “dididik” oleh setan untuk terbiasa dengan kemaksiatan. Ketika setan dibelenggu di bulan Ramadhan, nafsu yang sudah terbiasa berbuat buruk ini tidak otomatis menjadi suci.

Nafsu manusia memiliki kecenderungan untuk mencari kesenangan instan (hedonisme) dan menghindari kesulitan. Dalam ilmu tasawuf, nafsu Ammarah bis-su’ adalah tingkatan nafsu yang selalu memerintahkan pada keburukan. Puasa memang didesain untuk menekan nafsu ini, namun bagi mereka yang hanya menahan lapar dan dahaga tanpa menjaga hati dan panca indera, nafsu tersebut tetap akan bergejolak. Inilah alasan utama mengapa maksiat di bulan Ramadhan tetap eksis; pelakunya bukan lagi bisikan setan, melainkan sisa-sisa kebiasaan buruk yang sudah mendarah daging.

Kekuatan Kebiasaan (The Power of Habit)

Manusia adalah makhluk kebiasaan. Jika seseorang terbiasa berbohong, memamerkan kemewahan, atau melihat hal yang haram selama berbulan-bulan, otaknya telah membentuk jalur saraf (neural pathways) yang kuat terhadap tindakan tersebut. Saat Ramadhan tiba, jalur saraf ini tidak langsung terputus.

Maksiat yang terjadi di bulan suci sering kali merupakan residu atau endapan dari perilaku di luar bulan Ramadhan. Seseorang mungkin tidak dibisiki setan saat itu juga, tetapi memori dan kenikmatan semu dari maksiat masa lalu masih menghantui pikirannya. Tanpa tekad yang kuat untuk melakukan taubatan nasuha, seseorang akan terjebak dalam lingkaran setan (meski setannya sedang absen).

Lingkungan dan Pengaruh Sosial

Faktor eksternal lain adalah lingkungan. Meskipun setan-setan gaib dibelenggu, “setan” dalam wujud manusia (orang-orang yang mengajak pada keburukan) tetap bebas beraktivitas. Lingkungan yang tidak kondusif, tayangan media yang tidak mendidik, serta pergaulan yang jauh dari nilai-nilai agama tetap menjadi pemicu terjadinya kemaksiatan.

Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk isolasi mandiri dari pengaruh buruk (uzlah). Namun, di era digital, kemaksiatan bisa datang hanya melalui genggaman tangan. Jika kita tidak membelenggu jari-jari kita dari menyebar hoaks atau gibah di media sosial, maka esensi pembelengguan setan itu tidak akan terasa dalam hidup kita.

Puasa yang Hanya Mendapat Lapar dan Dahaga

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga. Hal ini terjadi karena mereka tidak meninggalkan qauluz zur (perkataan dusta) dan perbuatan buruk lainnya.

Puasa yang berkualitas seharusnya menjadi perisai (junnah). Namun, perisai itu hanya akan berfungsi jika kita memegang dan menggunakannya dengan benar. Jika kita membiarkan pintu-pintu kemaksiatan tetap terbuka melalui mata, telinga, dan lisan, maka pengaruh negatif akan tetap masuk, terlepas dari apakah setan sedang dibelenggu atau tidak.

Kesimpulan: Ramadhan Sebagai Ajang Pembuktian Diri

Adanya maksiat di bulan Ramadhan sebenarnya adalah cermin besar bagi setiap muslim. Ini adalah saat di mana kita bisa melihat wajah asli jiwa kita tanpa “gangguan” pihak ketiga. Jika kita masih merasa berat untuk beribadah atau masih ringan untuk berbuat dosa, maka masalahnya bukan pada setan, melainkan pada kualitas iman dan kebersihan hati kita sendiri.

Ramadhan adalah waktu untuk melakukan reparasi total terhadap jiwa. Pembelengguan setan hanyalah fasilitas dari Allah untuk memudahkan kita. Tugas kita adalah menggunakan fasilitas tersebut untuk menjinakkan nafsu kita sendiri, memutus rantai kebiasaan buruk, dan membangun karakter baru yang lebih takwa.

Mari Sempurnakan Puasa dengan Berbagi

Keberkahan Ramadhan tidak hanya diraih dengan menahan diri dari maksiat, tetapi juga dengan meluaskan manfaat bagi sesama. Masih banyak saudara-saudara kita yang harus berbuka dengan ala kadarnya atau bahkan menahan lapar melebihi waktu puasa karena keterbatasan ekonomi. Kami mengajak Anda untuk menyalurkan sebagian rezeki melalui donasi Ramadhan untuk paket pangan dan santunan anak yatim. Setiap rupiah yang Anda berikan adalah langkah nyata dalam memerangi nafsu kikir dan memperberat timbangan amal kebaikan Anda. Mari berdonasi sekarang dan hadirkan senyum di meja makan mereka.