Jika Rezeki Sudah Dijamin, Mengapa Masih Ada yang Kelaparan?

Pertanyaan mengenai keadilan Ilahi sering kali muncul ketika kita dihadapkan pada realitas ketimpangan sosial yang tajam. Di satu sisi, doktrin keagamaan menanamkan keyakinan mendalam bahwa setiap makhluk yang bernyawa di muka bumi telah dijamin rezekinya oleh Sang Pencipta. Tidak ada satu pun jiwa yang melangkah di dunia ini tanpa porsi makanan, minuman, dan keberlangsungan hidup yang telah ditetapkan untuknya. Namun, di sisi lain, layar televisi dan media sosial setiap hari menyuguhkan pemandangan yang bertolak belakang: anak-anak yang memegang perut kosong, kemiskinan ekstrem, hingga krisis kelaparan massal di berbagai belahan dunia.

Kontradiksi ini kerap memicu kebuntuan berpikir. Jika rezeki sudah dijamin, mengapa masih ada yang kelaparan? Apakah jaminan tersebut tidak bekerja secara merata, ataukah ada pemahaman yang keliru dalam cara kita memaknai konsep rezeki dan sunnatullah yang berlaku di bumi? Untuk memahami fenomena ini secara utuh, kita perlu mengurai beberapa dimensi utama yang melingkupi hubungan antara jaminan Tuhan, sistem sosial manusia, dan tanggung jawab moral sesama.

Memahami Hakikat “Jaminan Rezeki”

Langkah awal untuk menjawab persoalan ini adalah meluruskan pemaknaan tentang jaminan Tuhan. Dalam perspektif teologis, jaminan rezeki tidak serta-merta berarti makanan akan jatuh begitu saja dari langit tanpa ada hukum sebab-akibat. Tuhan menciptakan alam semesta beserta hukum-hukumnya (sunnatullah). Jaminan rezeki diturunkan dalam bentuk potensi alam yang melimpah: tanah yang subur, hujan yang turun, lautan yang kaya akan ikan, serta akal dan fisik yang diberikan kepada manusia untuk mengolah sumber daya tersebut.

Bumi tempat kita tinggal sebenarnya memiliki kapasitas yang lebih dari cukup untuk memberi makan seluruh penghuninya. Berdasarkan berbagai data ketahanan pangan dunia, jumlah produksi pangan global setiap tahunnya selalu mencukupi kebutuhan seluruh populasi manusia. Dengan kata lain, secara material, jaminan rezeki itu nyata dan terbukti ada di alam semesta. Bahan makanan tersedia secara melimpah di planet ini. Permasalahannya bukan terletak pada ketiadaan bahan pangan yang disediakan oleh Sang Pencipta, melainkan pada bagaimana bahan pangan tersebut dikelola dan didistribusikan oleh manusia.

Kerusakan Sistem dan Ketidakadilan Manusia

Penyebab utama dari timbulnya kelaparan bukanlah kegagalan jaminan Ilahi, melainkan akumulasi dari ketidakadilan, keserakahan, dan kegagalan sistem pengelolaan yang diciptakan oleh manusia sendiri. Ketika rezeki yang seharusnya mengalir secara adil tertahan di satu titik, maka titik lain akan mengalami kekeringan. Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan kelaparan tetap terjadi di tengah kelimpahan sumber daya:

  • Ketimpangan Distribusi Pangan: Sebagian wilayah di dunia mengalami food waste atau pemborosan makanan dalam jumlah ribuan ton setiap harinya, sementara di wilayah lain akses terhadap makanan dasar sangat terbatas. Makanan menumpuk di pasar-pasar negara maju, sementara negara berkembang kesulitan mendapatkan pasokan yang memadai.
  • Monopoli dan Keserakahan Ekonomi: Sistem ekonomi yang terlalu berpihak pada akumulasi modal menyebabkan sebagian kecil kelompok menguasai mayoritas sumber daya. Ketika pangan dijadikan komoditas spekulatif untuk mencari keuntungan semata, harganya melambung tinggi dan tidak terjangkau oleh masyarakat miskin.
  • Konflik dan Peperangan: Perang adalah salah satu penyumbang terbesar krisis kelaparan. Bencana kemanusiaan akibat konflik senjata menghancurkan infrastruktur pertanian, memutuskan rantai pasok makanan, dan memaksa jutaan orang menjadi pengungsi yang kehilangan akses terhadap mata pencaharian.
  • Bencana Alam dan Perubahan Iklim: Kerusakan lingkungan yang sebagian besar diakibatkan oleh eksploitasi berlebihan oleh manusia memicu cuaca ekstrem, gagal panen berkepanjangan, dan kekeringan yang menghancurkan sumber pangan lokal.

Dari faktor-faktor di atas, terlihat jelas bahwa kelaparan adalah dampak dari tindakan manusia sendiri. Ketika hukum sosial dan etika berbagi diabaikan, maka ketimpangan ekstrem tidak terhindarkan.

Kelaparan sebagai Ujian bagi yang Mampu

Pertanyaan mengenai mengapa kelaparan dibiarkan terjadi juga berkaitan erat dengan fungsi dunia sebagai tempat ujian. Kehidupan tidak dirancang sebagai tempat yang sempurna tanpa tantangan, melainkan wahana pengujian bagi moralitas manusia. Dalam konteks ini, kelaparan memiliki dua sisi ujian yang saling melengkapi.

Bagi mereka yang mengalami kelaparan dan kekurangan, kondisi tersebut merupakan ujian kesabaran, ketabahan, dan ketahanan iman. Namun, ujian yang jauh lebih berat sebenarnya ditimpakan kepada mereka yang hidup dalam kecukupan dan kelebihan harta. Kemiskinan dan kelaparan yang menimpa orang lain adalah instrumen penguji bagi empati, kepedulian, dan rasa tanggung jawab sosial dari orang-orang yang mampu.

Apakah mereka yang bergelimang harta akan membiarkan saudaranya menderita kelaparan, ataukah mereka akan mengulurkan tangan untuk berbagi? Jaminan rezeki bagi orang-orang miskin sering kali dititipkan oleh Tuhan melalui tangan orang-orang kaya. Ketika orang kaya enggan mengeluarkan zakat, sedekah, dan infak, mereka sebenarnya sedang menahan hak orang lain yang dititipkan kepada mereka. Oleh karena itu, kelaparan yang terjadi di dunia adalah bukti nyata kegagalan sebagian manusia dalam menjalankan amanah kepedulian sosial tersebut.

Ikhtiar dan Kewajiban Kolektif

Memahami bahwa rezeki sudah dijamin tidak boleh menjerumuskan kita pada sikap fatalisme atau pasrah tanpa usaha. Jaminan Tuhan menuntut ikhtiar aktif dari dua pihak: individu yang membutuhkan dan masyarakat sekitarnya.

Secara individu, setiap manusia diwajibkan untuk berusaha dan bekerja mencari karunia Tuhan yang tersebar di bumi. Namun, ketika usaha individu tersebut terhalang oleh struktur sosial yang tidak adil, kemiskinan sistemik, atau bencana yang melumpuhkan, maka kewajiban tersebut berpindah menjadi kewajiban kolektif (fardhu kifayah) bagi masyarakat dan pemerintah. Menuntaskan masalah kelaparan memerlukan kerja sama global, kebijakan ekonomi yang berpihak pada rakyat kecil, penghentian konflik, serta kebiasaan hidup berbagi yang diwujudkan secara nyata.

Rezeki tidak pernah salah alamat, tetapi keserakahan manusialah yang sering kali menghalangi rezeki itu sampai ke alamat yang dituju. Membiarkan orang lain kelaparan ketika kita memiliki kemampuan untuk membantunya adalah bentuk pengabaian terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan perintah agama.

Jaminan rezeki yang Tuhan sediakan di bumi sering kali tertahan oleh ketidakadilan dan keterbatasan akses yang dialami oleh saudara-saudara kita. Hari ini, Anda memiliki kesempatan untuk menjadi perantara hadirnya jaminan rezeki tersebut bagi mereka yang sedang membutuhkan. Mari wujudkan kepedulian nyata dan hadirkan kehangatan sepiring makanan bagi anak-anak serta keluarga yang terancam kelaparan dengan menyalurkan donasi terbaik Anda sekarang melalui lembaga trust terpercaya. Anda dapat menyalurkannya ke Yayasan Cahya Hati Mutiara Madani.

Author : Anis Nur Fadella