Dalam lembaran sejarah Islam, masa setelah wafatnya Para Sahabat Nabi merupakan era kemunculan generasi Tabi’in para pengikut yang berguru langsung kepada para sahabat. Dari sekian banyak bintang di era tersebut, ada satu nama yang bersinar sangat terang dalam keilmuan, keteguhan moral, dan keberanian mempertahankan kebenaran. Beliau adalah Sa’id bin Musayyib (rahimahullah).
Ia tidak hanya dikenal sebagai salah satu ulama terbesar dari Fuqaha As-Sab’ah (Tujuh Ahli Fikih Madinah), tetapi juga sebagai simbol ketakwaan yang tak tergoyahkan oleh silau kemewahan dunia maupun intimidasi kekuasaan. Bagi Sa’id, takwa bukanlah jargon spiritual semata, melainkan ukuran mutlak dalam menilai setiap sisi kehidupan.
Bintang Utama di Kalangan Tabi’in
Sa’id bin Musayyib lahir pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Tumbuh di kota Madinah yang masih kental dengan atmosfer kenabian, Sa’id menyerap ilmu langsung dari para sahabat terkemuka seperti Abu Hurairah, Aisyah, Ibn Abbas, dan Utsman bin Affan.
Pernikahannya dengan putri Abu Hurairah semakin memperdalam keakrabannya dengan sanad hadis-hadis Rasulullah. Ia dikenal memiliki hafalan yang luar biasa tajam dan pemahaman fikih yang sangat mendalam. Tak heran jika Umar bin Abdul Aziz yang kelak menjadi khalifah berjiwa reformis selalu meminta pertimbangan dan fatwa dari Sa’id sebelum mengambil keputusan penting saat bertugas sebagai Gubernur Madinah.
Namun, kehebatan Sa’id tidak terletak pada kedalaman ilmunya saja. Yang membuat sosoknya amat disegani oleh kawan maupun lawan adalah integritasnya. Ia adalah pribadi yang mengamalkan setiap jengkal ilmu yang dimilikinya.
Ujian Kekuasaan: Menolak Pinangan Pangeran
Salah satu kisah paling monumental yang mencerminkan prinsip hidup Sa’id bin Musayyib adalah ketika ia menolak lamaran Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Sang Khalifah bermaksud meminang putri Sa’id untuk dinikahkan dengan putranya, Al-Walid bin Abdul Malik, yang merupakan calon putra mahkota Kekhalifahan Umayyah.
Bagi kebanyakan orang, tawaran ini adalah kesempatan emas menuju puncak kehormatan duniawi. Menjadi mertua dari calon pemimpin imperium terbesar di zaman itu menjanjikan kekayaan, kedudukan, dan jaminan hidup yang melimpah. Namun, Sa’id bin Musayyib memandangnya dari sudut pandang yang bertolak belakang.
Secara mengejutkan, Sa’id menolak pinangan sang pangeran. Tak lama kemudian, ia justru menikahkan putrinya dengan salah satu muridnya yang miskin bernama Ibn Abi Wada’ah, dengan mahar yang sangat sederhana: hanya dua atau tiga dirham.
Ketika murid-muridnya bertanya heran atas keputusan ekstrem tersebut, Sa’id memberikan jawaban yang abadi sepanjang zaman:
“Putriku adalah amanah. Jika aku menikahkannya dengan putra khalifah, ia akan berpindah ke istana yang megah, dikelilingi pelayan, kemewahan, dan kasur-kasur empuk. Lantas, bagaimana nasib agamanya kelak ketika ia terlena oleh kemewahan dunia? Aku lebih memilih menempatkannya di rumah seorang pemuda yang miskin namun kuat ketakwaannya, agar agamanya tetap terjaga.”
Bagi Sa’id, ukuran kemuliaan sebuah pernikahan bukanlah mahar berlimpah atau takhta yang megah, melainkan ketakwaan. Ia menolak mengorbankan masa depan akhirat anaknya demi kesenangan duniawi yang fana.
Keteguhan Di Atas Ujian Fisik dan Intimidasi
Keteguhan Sa’id bin Musayyib bukan tanpa konsekuensi. Ketika Khalifah Abdul Malik bin Marwan meminta baiat dari masyarakat Madinah untuk kedua putranya (Al-Walid dan Sulaiman) sebagai calon penerus kekuasaan secara berurutan, Sa’id menolak secara tegas. Ia menilai mekanis birokrasi penunjukan tersebut menyalahi prinsip musyawarah Islam.
Akibat penolakannya, Gubernur Madinah saat itu memerintahkan agar Sa’id ditangkap, dicambuk sebanyak 60 kali, dipakaikan baju wool yang kasar, lalu diarak keliling kota Madinah untuk dipermalukan.
Namun, intimidasi fisik tersebut sedikit pun tidak meruntuhkan mentalnya. Ketika keluar dari penjara dalam keadaan tubuh memar dan berdarah, Sa’id tetap berjalan menuju Masjid Nabawi untuk melaksanakan shalat berjamah seperti biasa. Ia tidak menyimpan dendam, namun ia juga tidak sudi menggadaikan prinsip agamanya hanya untuk menyenangkan penguasa.
Prinsip Kebersahajaan dan Kemandirian Hidup
Untuk menjaga independensi fatwa dan sikap politiknya, Sa’id bin Musayyib memilih hidup dari usaha sendiri. Ia berdagang minyak zaitun dan makanan pokok dalam skala kecil. Ia menolak menerima tunjangan dari kas negara (Baitul Mal) atau hadiah-hadiah dari para pejabat.
Kehidupan ekonominya sangat bersahaja, tetapi jiwanya sangat merdeka. Kerendahan hatinya tercermin dalam rutinitas ibadahnya. Diriwayatkan bahwa Sa’id bin Musayyib tidak pernah ketinggalan shalat berjamaah di Masjid Nabawi selama lebih dari 40 tahun, dan ia tidak pernah melihat punggung jamaah di depannya karena selalu berada di shaf pertama.
Pelajaran Utama untuk Masa Kini
Kisah Sa’id bin Musayyib menyisakan cermin besar bagi kehidupan kita hari ini. Di era ketika status sosial sering dipatok berdasarkan jumlah pengikut di media sosial, kekayaan finansial, atau jabatan politik, kisah Sa’id menegur kita tentang apa yang sebetulnya bernilai di hadapan Allah.
- Takwa Sebagai Standar Utama: Dalam memilih pasangan, rekan bisnis, maupun keputusan hidup, ketakwaan harus menjadi kompas utama.
- Integritas yang Tak Terbeli: Keberanian mengatakan yang benar di hadapan kekuasaan atau godaan harta adalah ciri utama pribadi yang bertakwa.
- Kebebasan Jiwa melalui Kebersahajaan: Dengan menyederhanakan tuntutan duniawi, seseorang tidak akan mudah didikte oleh kepentingan duniawi orang lain.
Penutup: Mari Salurkan Ketakwaan dalam Aksi Nyata
Meneladani ketakwaan para tabi’in seperti Sa’id bin Musayyib tidak cukup hanya dengan mengagumi kisahnya, tetapi juga dengan mengamalkan kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari. Banyak saudara kita yang saat ini berjuang di tengah keterbatasan ekonomi dan membutuhkan uluran tangan. Melalui niat yang ikhlas dan kepedulian yang nyata, kita dapat membantu meringankan beban mereka sekaligus memupuk ketakwaan dalam diri. Mari salurkan infak, sedekah, dan donasi terbaik Anda hari ini untuk menghadirkan kebahagiaan dan masa depan yang lebih baik bagi sesama.